Monday, 14 May 2018

Teori Materialisme Historis Karl Marx

Sejarah akan berbeda sekarang ini tanpa Karl Marx. Demikian salah satu kesimpulan Franz Magnis Suseno mengenai pemikiran Karl Marx.[1] Tidak mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl Max di tempat yang tinggi dalam susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah. Pada masa jayanya, jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme mendekati angka 1,3 milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang sejarah manusia.[2] Pengaruh pemikiran Karl Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan dunia ini. Marx tidak hanya merangsang perubahan cara berpikir, akan tetapi juga mengubah cara manusia bertindak. Seperti dikatakan Marx sendiri, “Para filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah bagaimana mengubah dunia.” Hal inilah yang kemudian membedakan Marx dari filosof lain, misalnya, Auguste Comte atau Martin Heidegger, bahkan David Hume yang hanya sanggup mengubah cara manusia berfikir.[3]

1.    Konteks Sosial
Marx hidup setelah dua revolusi besar yaitu setelah revolusi Industri Inggris dan revolusi Kelas Borjuis Perancis. Revolusi Borjuis di Perancis membuat Kelas Borjuis berkuasa atas kekuasaan politik dan ekonomi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh para bangsawan-bangsawan Monarki Perancis. Lalu akibat dari revolusi Industri perkembangan Kapitalis sangat cepat sekali sehingga menimbulkan jurang antara Kelas Kapitalis yang menguasai alat produksi dan Rakyat pekerja yang tenaga nya hanya diperas untuk keperluan sang Kapitalis itu tanpa memperdulikan yang lainya. Dalam keadaan sosial yang seperti itu Marx bangkit dengan pikiran-pikiran yang penuh kritik terhadap keadaan sosial yang semakin ruwet. Rakyat miskin dihisap dan ditindas oleh dua pihak yaitu dikota ia ditindas oleh para Kapitalis sedangkan di desa mereka ditindas oleh para tuan-tuan tanah .Dengan demikian Marx mengutamakan perubahan kedaan sosial melalui revolusi untuk menyelamatkan rakyat pekerja serta rakyat kecil lainya dari segala bentuk ekslploitasi yang merantai mereka dan bertujuan untuk membangun surga di Dunia ini dimana seluruh manusia dapat hidup bahagia,makmur dan adil.[4]
Konteks sosial yang melahirkan teori sosial Marx adalah ketika Karl Marx masih belajar di Bonn dan kemudian di Berlin. Pada saat di Berli itulah Marx terpikat oleh filsafat Hegel. Semula ia bekerja sebagai wartawan kemudian pindah ke Paris tempat dia bertemu dengan Friedricht Engels (1820-1895). Pertemuaannya dengan Engels itulah dia dapat menemukan karya ilmiahnya. Ketika dia diusir dari Perancis kemudian pindah ke Brussel. Pada waktu meletus revolusi di Jerman pada tahun 848 pindahlah dia ke Koln. Setelah dia diusir dari Jerman kemudian pindahlah lagi ke Paris dan akhirnya berdiam di London hingga matinya (1883). Pekerjaannya sebagai wartawan menyebabkan dia berkecimpung dalam politik yang praktis. Hal ini menjadikan dia dapat secara langsung berhubungan dengan kenyataan kemasyarakatan. Marx mulai belajar ekonomi negara secara mendalam. Karya pokok Marx adalah “Das Kapital atau Kapital”, yang bagian pertamanya ditulis pada tahun 1867. Kedua bagian lainnya belum diselesaikan karena kesibukan-kesibukan organisasi dan gangguan kesehatannya. Kedu bagian lainnya kemudian diterbitkan oleh Engels (1885 dan 1894).[5]

2.    Pemikiran dan Teori yang Mempengaruhi
Marx dipengaruhi oleh dan sekaligus mengkritik Hegel dan Feuerbach. Mengikuti Feuerbach, Marx mengkritik kesetiaan Hegel terhadap filsafat idealis. Marx berpendirian demikian bukan hanya karena ia menganut orientasi materialis tetapi juga karena minatnya dalam aktivitas praktis. Fakta sosial, seperti kekayaan dan negara, oleh Hegel dibicarakan lebih sebagai gagasan ketimbang sebagai sesuatu yang nyata sebagai kesatuan material. Bahkan ketika ia membahas proses material yang tampak seperti tenaga kerjapun, perhatian Hegel hanya tertuju pada mental tenaga kerja yang abstrak itu. Pandangan Hegel ini sangat berbeda dari perhatian Marx yang tertuju pada tenaga kerja yang nyata. Hegel melihat pada masalah yang keliru sejauh yang menjadi sasaran perhatian Marx. Marx merasa idealisme Hegel mengarah ke orientasi politik yang konservatif. Menurut Hegel, proses evolusi terjadi di luar kontrol individu dan di luar aktivitasa mereka. Karena dalam diri manusia terjadi perubahan ke arah kesadaran yang makin besar tentang kehidupan seperti yang diharapkan, manusia tak memerlukan perubahan revolusioner, proses telah berlangsung menurut arah yang diinginkan. Masalah apapun yang muncul terletak dalam kesadaran dan karena itu jawabannya pun terletak dalam perubahan pikiran. Pendirian Marx sangat berbeda. Ia menyatakan bahwa masalah kehidupan modern dapat dirujuk ke sumber materialnya yang riil (misalnya, struktur kapitalisme). Karena itu penyelesaiiannya hanya dapat ditemukan dengan menjungkirbalikkan struktur kapitalisme itu melalui tindakan kolektif sejumlah orang besar. Sementara Hegel meletakkan “dunia di atas kepalanya” (ia memusatkan perhatian pada kesadaran bukan pada kehidupan material yang nyata), Marx benar-benar meletakkan dialektikanya dalam landasan material.
Marx mendukung kritik Feuerbach tehadap sejumlah pemikiran Hegel (misalnya, materialisme dan penolakannya terhadap keabstrakan teori Hegel), tetapi ia jauh dari puas terhadap pendapat Feuerbach sendiri. Feuerbach memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan, sedangkan Marx yakin bahwa seluruh dunia sosial, dan khususnya kehidupan ekonomilah yang harus dianalisis. Meski Marx menerima materialisma Feuerbach, ia merasa bahwa Feuerbach terlalu jauh memusatkan perhatian pada sisi nondialektis kehidupan materi. Feuerbach telah gagal memasukkan dialektika selaku sumbangan pemikiran Hegel terpenting ke dalam orientasi materialisme, terutama hubungan antara manusia dan kehidupan material. Terakhir Marx menyatakan bahwa Feuerbach seperti kebanyakan filsuf lainnya, gagal menekankan praksis (praxis)-aktivitas praktis, khususnya aktivitas revolusioner. Seperti dikatakan Marx, “Filsuf hanya menginterpretasikan kehidupan dalam berbagai cara; padahal masalah utamanya adalah bagaimanna cara mengubahnya”.
Marx memungut apa yang dianggapnya unsur terpenting dari dua pemikir itu. Dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach dan meleburnya menjadi orientasi filsafatnya sendiri, yakni materialisme dialektika yang menekankan pada hubungan dialektika dalam kehidupan material.[6] Dialektika berarti sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya. Dialektika bisa juga dirumuskan sebagai teori tentang persatuan hal-hal yang bertentangan. Contoh yang tepat untuk menjelaskan dialektika adalah dialog. Dalam setiap dialog, terdapat sebuah tesis, yang kemudian melahirkan anti-tesis, dan selanjutnya muncul sintesis. Proses demikian berulang terus menerus.[7]

3.    Latar Belakang Sosial
Karl Marx terkenal bukan hanya sebagai seorang filsuf, melainkan juga seorang ahli politik, ahli sejarah, ahli sosiologi dan ahli ekonomi. Ia lahir di Trier, Prusia, pada 5 Mei 1818. Ia berasal dari keluarga Yahudi. Konon, ayahnya yang bernama Herschel adalah keturunan para rabi (pendeta Yahudi). Namun, keluarganya sangat liberal. Ayahnya yang merupakan seorang pengacara meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama Kristen Protestan. Perpindahan agama ayahnya yang begitu mudah diduga merupakan alasan mengapa Karl Marx tidak pernah tertarik dengan Agama. Ayahnya mengharapkan Marx menjadi notaris sebagaimana ayahnya. Ia sendiri dibaptis untuk masuk agama Kristen pada saat usianya enam tahun. Karl Marx sendiri lebih menyukai untuk menjadi Penyair daripada seorang ahli hukum.
Setelah selesai menempuh pendidikan di tempat kelahirannya pada tahun 1835 Marx melanjutkan studinya di Universitas Bonn dengan mengambil jurusan hukum. Akan tetapi, ia tertarik pada filsafat dan kesusastraan. Lalu ia pindah ke Universitas Berlin untuk mempelajari filsafat Hegel. Hukum merupakan ilmu yang digemari pada saat itu. Setengah semester ia bertahan, dan melompat ke Universitas Berlin, fokus pada filsafat. Masih semester dua, Marx sudah masuk kelompok diskusi paling ditakuti di kampus itu, Klub Para Doktor, dan menjadi anggota yang paling radikal. Kelompok ini selalu memakai Filsafat Hegel untuk menyerang kekolotan Prussia. Tak heran, klub ini pun digelari “Kaum Hegelian Muda”. Namun karena mereka juga menentang agama Protestan, klub ini digolongkan menjadi Hegelian Kiri, lawan Hegelian Kanan, yang menafsirkan Hegel sebagai teolog Protestan.
Selanjutnya, ia pindah ke Universitas Jena. Disana, pada tahun 1841 atau tepatnya 23 tahun ia meraih gelar doktor, Marx dipromosikan menjadi doktor dengan disertasi “The Difference between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus”. Kertas kerja dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai dijauhi rekan-rekannya. Marx tumbuh di tengah pergolakan politik yang dikuasai oleh kekuatan kapitalis para Borjuis yang menentang kekuasaan aristokrasi feodal dan membawa perubahan hubungan sosial. Meskipun ia memperjuangkan kelas orang-orang tertindas sebagai referensi empiris dalam mengembangkan teori filsafatnya.
Selanjutnya Marx bekerja sebagai editor utama di sebuah surat kabar radikal dan liberal di Koln, Jerman. Dari sinilah ia banyak mempelajari berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi yang kemudian dikaitkan dengan asas-asas filsafat yang diyakininya.
Selama hampir setahun ia menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal 1843, sesudah harian itu dilarang oleh pemerintah Prussia, pada usia 25 tahun, ia menikah dan segera meninggalkan Jerman untuk mencari tempat yang lebih aman dalam mengungkapkan buah pikirannya yang kerap tidak disukai oleh pemerintah Jerman karena dianggap membahayakan kekuasaan pemerintah. ia menikah dengan Jenny Von Westphalen, putri seorang bangsawan, dan pindah ke Paris. Di sana ia tidak hanya berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang akan menjadi teman akrab dan “penerjemah” teori-teorinya melainkan juga dengan tokoh-tokoh sosialis Perancis. Dari seorang liberal radikal ia menjadi seorang sosialis. Beberapa tulisan penting berasal waktu 1845, atas permintaan pemerintah Prussia, ia diusir oleh pemerintah Perancis dan pindah ke Brussel di Belgia. Dalam tahun-tahun ini ia mengembangkan teorinya yang definitif. Ia dan Engels terlibat dalam macam-macam kegiatan kelompok-kelompok sosialis. Bersama dengan Engels ia menulis Manifesto Komunis yang terbit bulan Januari 1848. Sebelum kemudian pecahlah apa yang disebut revolusi’48, semula di Perancis, kemudian juga di Prussia dan Austria. Marx kembali ke Jerman secara ilegal. Tetapi revolusi itu akhirnya gagal. Karena diusir dari Belgia, Marx akhirnya pindah ke London dimana ia akan menetap untuk sisa hidupnya.
Di London mulai tahap baru dalam hidup Marx. Aksi-aksi praktis dan revolusioner ditinggalkan dan perhatian dipusatkannya pada pekerjaan teroritis, terutama pada studi ilmu ekonomi. Tahun-tahun itu merupakan tahun-tahun paling gelap dalam kehidupannya. Ia tidak mempunyai sumber pendapatan yang tetap dan hidup dari kiriman uang sewaktu-waktu dari Engels. Keluarganya miskin dan sering kelaparan. Karena sikapnya yang sombong dan otoriter, hampir semua bekas kawan terasing daripadanya. Pada tahun 1864, Marx bergabung dalam aktivitas politik gerakan pekerja internasional. Tetapi disintegrasi di tubuh gerakan tersebut dan penyakit yang ia derita menandai akhir dari kariernya. Marx memiliki tujuh anak. Empat diantaranya meninggal karena kecelakaan. Sisanya adalah tiga orang putri. Tahun 1881, istrinya meninggal dunia. Akhirnya, baru 1867, terbit jilid pertama Das Kapital, karya utama Marx yang memuat kritiknya terhadap kapitalisme (jilid kedua dan ketiga baru diterbitkan oleh Engels sesudah Marx meninggal). Tahun-tahun terakhir hidupnya amat sepi dan tahun 1883 ia meninggal dunia.[8]

4.    Pertanyaan yang Ditawarkan
Ketika Marx masuk di Universitas Berlin, ia tertarik oleh filsafat Hegel. Dari Hegel ia kemudian mencari jawaban atas pertanyaan yang menggerakkanya; ‘ penindasan sistem politik reaksioner? Pemikiran Karl Marx semakin berkembang setelah berkenalan dengan filsafat Feurbach. Sekarang Marx mengartikan ciri reaksioner negara Prusia sebagai ungkapan sebuah keterasingan manusia dari dirinya sendiri.Yang menjadi pertanyaan Marx sekarang adalah di mana ia harus mencari sumber keterasingan itu. Jawabannya ditemukan sesudah bertemu dengan kaum sosialis radikal di Prancis. Di Paris, Marx menjadi yakin bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia. Sebenaranya pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia justru menemukan identitasnya. Tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Melalui pekerjaan manusia tidak menemukan melainkan mengasingkan diri. Hal itu demikian karena sistem hak milik pribadi membagi masyarakat ke dalam para pemilik yang berkuasa dan para pekerja yang tereksploitasi. Manusia hanya dapat dibebaskan apabila hak milik pribadi atas alat-alat produksi dihapus melalui revolusi kaum buruh. Dengan demikian Marx mencapai posisi klasik sosialisme. Karena itu Marx semakin memusatkan perhatiannya pada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi. Ia mengklaim bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah yang tidak hanya didorong oleh cita-cita moral, melainkan berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat, dengan demikian pendekatan Marx berubah dari yang bersifat murni filosofis menjadi semakin sosiologis. Sosialisme ilmiah itu disebut Marx sebagai ‘paham sejarah yang materialistik’. Sejarah dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi di satu pihak dan struktur kelas-kelas sosial di pihak lain. Marx sampai pada pendapat yang akan menjadi dasar ajarannya, bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi, melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi lama-kelamaan akan membuat struktur-struktur hak milik lama menjadi hambatan kemajuan. Dalam situasi ini akan timbul revolusi sosial yang melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi. Sekarang pertanyaannya, apakah akan pernah lahir masyarakat di mana hak milik pribadi sama sekali terhapus? Jadi apakah komunisme, masyarakat tanpa hak milik pribadi dan tanpa kelas-kelas sosial itu, akan pernah terwujud? Karena faktor yang menentukan perkembangan masyarakat adalah bidang ekonomi, pertanyaan itu harus dijawab melalui suatu analisis dinamika ekonomi tertinggi yang sudah dihasilkan oleh sejarah, kapitalisme. Itulah sebabnya Marx makin lama makin memusatkan studinya pada ilmu ekonomi, khusunya ekonomi kapitalistik. Studi itu membawa Marx pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalisme niscaya akan menuju kepada kehancurannya sendiri. Karena kapitalisme seluruhnya terarah kepada keuntungan pemilik sebesar-besarnya, kapitalisme menghasilkan penghisapan manusia pekerja dan, karena itu, pertentangan kelas paling tajam. Karena itu produksi kapitalistik semakin tidak terjual karena semakin tak terbeli oleh massa buruh yang sebenarnya membutuhkannya. Kontradiksi internal sistem produksi kapitalis itulah yang akhirnya niscaya akan melahirkan revolusi kelas buruh yang akan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas.[9]

5.    Proposisi yang Ditawarkan
Marx menawarkan dua buah variabel yaitu “materi” sebagai variabel X dan “perilaku sosial” sebagai variabel Y. Marx menjelaskan bahwa perilaku sosial seseorang disetting oleh adanya materi. Secara sederhana materialisme historis dipahami sebagai sejarah yang dikaitkan dengan materi. Menurut pandangan Marx “keberadaan menentukan kesadaran”. Artinya kondisi-kondisi kehidupan materiil menentukan kesadaran normatif atau kesadaran sosiologi seseorang. Jadi cara berpikir, merasa, bertindak, dan berperilaku tentang pemerintahan, partai, gaya hidup, pertemanan atau ideologi dipengaruhi oleh kondisi materiel (infrastruktur ekonomi) yang dimiliki.[10]
Teori Marx secara garis besarnya saja, dapat dikatakan bahwa Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat mendasar manusia. Marx yakin bahwa manusia pada dasarnya produktif, artinya untuk bertahan hidup manusia perlu bekerja di dalam dan dengan alam. Dengan bekerja seperti itu mereka menghasilkan makanan, pakaian, peralatan, perumahan, dan kebutuhan lain yang memungkinkan mereka hidup. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dorongan ini diwujudkan bersama-sama dengan orang lain. Dengan kata lain manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerja bersama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.[11]

6.    Jenis Realita Sosial
Jenis realitas sosial yang ditampilkan oleh Marx adalah jenis realitas yang nampak.. Jenis realitas sosial yang dikaji adalah dunia empirik dan fakta sosial dalam bentuk sistem sosial (hubungan produksi, alat dan sarana produksi, serta super struktur) dan formasi sosial. Sistem sosial mengandung dua komponen, yaitu super struktur dan sub stuktur. Sementara itu di dalam sub struktur terdapat dua elemen, yaitu hubungan produksi serta sarana dan alat produksi. Jadi sub stuktur menjadi determinan sistem sosial, dan super struktural tergantung pada sub struktur. Kunci dari sarana dan alat produksi adalah menguasai sumber alam, sedangkan cirinya bersifat dinamis-diam akan tertinggal dan akhirnya punah. Dalam formasi sosial setiap masa tidak selalu terdapat satu sistem nilai atau satu sistem tetapi bisa lebih dari satu sistem. Dalam sistem ekonomi selalu terdapat lebih dari satu model (campuran feodal, kapitalis, komunal, dan sebagainya).[12]
Jenis realitas sosial yang ditampilkan oleh Marx adalah jenis realitas yang nampak. Dikatakan nampak karena realitas dapat dilihat oleh panca indra. Karya Marx lebih fokus menyoroti cara manusia, negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Artinya penelitian yang dilakukan Marx memandang dari realita sosial yang muncul di masyarakat akibat adanya ekonomi kapitalisme. Ranah realita sosial ini adalah ranah positivisme, karena dalam ranah positivisme dijelaskan bahwa realita sosialnya bersifat nampak atau dapat dilihat oleh panca indera.

7.    Lingkup Realitas Sosial
Lingkup realitas sosial dalam teori yang dikemukakan Marx termasuk lingkup dalam skala mikro dan makro.Dikatakan termasuk lingkup mikro karena Marx membangun analisis kritisnya terhadap kontradiksi-kontradiksi masyarakat kapitalis berdasarkan premis-premisnya tentang sifat dasar manusia, hubungannya dengan pekerja dan potensinya bagi aliensi di bawah kapitalisme. Dia percaya bahwa ada kontradiksi nyata antara sifat dasar kita dan cara kita bekerja dalam masyarakat kapitalis.[13]
Teori Marx dikatakan makro ketika dilihat dari kecenderungan utama minat Marx yaitu pada basis historis kesenjangan, khususnya kekhususan bentuknya ketika berada di bawah kapitalisme. Marx lebih menekankan fakta sosial dalam bentuk sistem sosial (masyarakat). Bagi Marx, sebuah teori tentang bagaimana masyarakat bekerja akan bersifat khusus karena yang terutama dilihatnya adalah tentang bagaimana mengubah masyarakat. Oleh sebab itu, teori Marx adalah analisis terhadap kesenjangan di bawah kapitalisme dan bagaimana menghilangkannya.[14]

8.    Aktor yang Otonomi
Dalam kajian Marx aktor bersifat otonom dan tidak otonom. Karl Marx dikenal dengan determinisme ekonomi dimana kekuatan produksi (sub struktur) menentukan super struktur.
SUPER STRUKTUR         Sistem Nilai : Ideologi, agama, seni-budaya
Pranata : Organisasi yang menguatkan ideologi seperti negara,    hukum, pendidikan
SUB STRUKTUR            Hubungan Produksi
                                        Sarana dan Alat Produksi

Nilai (good society yang dipreskripsi) ialah ekonomi menentukan politik, walaupun kenyataannya tidak selalu demikian. Super struktur (ide, politik, agama dan sebagainya) berperan penting dalam penciptaan struktur dan perubahan. Konsep kelas borjuis dan proletar tidak selalu dapat menjelaskan setiap struktur masyarakat.[15]
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa teori Marx menekankan pada dua variabel, yaitu materi dan perilaku sosial. Sub struktur yang terdiri dari hubungn produksi dan sarana/alat produksi inilah yang merupakan materi yang dimaksud oleh Marx, sedangkan ideologi, seni budaya, agama, negara, hukum dan pendidikan inilah yang merupakan perilaku sosial yang dimaksud oleh Marx.
Aktor dikatakan otonom, apabila aktor tidak dipengaruhi oleh struktur-struktur yang membelenggunya. Dalam hal ini, aktor dikatakan otonom apabila sub struktur yang berupa hubungan produksi dan sarana/atal produksi dapat mempengaruhi sistem nilai dan pranata sosial. Kaum borjuis merupakan kaum penguasa dalam hubungan kerja/hubungan produksi. Kaum ini merupakan kaum pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi, sedangkan kaum proletar merupakan kaum pekerja yang biasa diperbudak oleh kaum borjuis. Oleh karena itu sudut pandang tentang sistem nilai dan pranata yang tercipta dari dua kaum ini pasti berbeda. Kaum borjuis lebih menentukan aturan yang berlaku dalam masyarakat karena mereka merupakan kaum yang menguasai segalanya, sementara itu kaum proletar bertindak seperti aktor yang tidak otonom. Mereka terikat oleh super struktur yang diciptakan oleh kaum borjuis.
Seorang individu dalam berprilaku bisa terjadi berdasarkan kebebasan diri pribadi maupun berprilaku karena berada dalam struktur. Subjektifitas individu sangat besar mempengaruhi perilaku atau tindakan sosial seseorang. Oleh karena itu, untuk mengamati perilaku dan tindakan sosial subjek hendaknya menghindari aktor yang tidak otonom. Sebab aktor yang tidak otonom seringkali memperlihatkan dan mengungkapkan kebenaran perilaku yang tidak sesungguhnya, hal demikian terjadi karena aktor tidak otonom berada dalam struktur, sehingga perilaku dan tindakannya cenderung dibatasi oleh struktur-struktur yang mengikatnya.  Pengamatan terhadap tindakan sosial individu lebih tepat jika dilakukan terhadap aktor yang otonom atau aktor yang bebas dari tekanan struktur. Sehingga, realitas sesungguhnya dari tindakan aktor dapat lebih dipertanggungjawabkan dan lebih dipercayai kredibilitasnya.

9.    Lokus Realitas
Lokus realitas dalam kajian Marx termasuk dalam lokus realitas luas. Marx lebih membahas masyarakat pada skala besar. Karena Marx lebih memfokuskan studinya pada realitas kelas dalam masyarakat. Dimana terdapat dua buah kelompok masyarakat, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Marx mengkaji tentang hubungan dua kaum ini. Kaum borjuis sebagai pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi merupakan kaum yang berkuasa atas wilayahnya. Sedangkan proletar merupakan kaum pekerja atau sebagai kaki tangan bagi kaum borjuis. Dalam kajian Marx, kaum borjuis seringkali menindas atas kaum proletar, sehingga fokus Marx adalah menginginkan adanya masyarakat tanpa kelas, sehingga tercipta hidup yang damai.
Marx lebih memfokuskan pada cara manusia, negara, pasar, dan kapital (modal) yang saling terkait satu sama lain. Pembahasan tentang individu (masyarakat dalam lingkup sempit) hanya berkisar individu dalam aktivitasnya di masyarakat, bahwa dalam memenuhi kebutuhan individu, manusia harus bekerja dan pastinya membutuhkan orang lain.

10.    Penjelasan yang Ditawarkan
Dari berbagai tema bahasan sosiologi Marx seperti kapitalisme, stratifikasi sosial, perubahan sosial, aliensi, dan tentang agama terdapat kecenderungan bahwa pembahasan tema tersebut berkisar pada materialisme historis. Secara sederhana materialisme historis dipahami sebagai sejarah yang dikaitkan dengan materi. Menurut pandangan Marx “keberadaan menentukan kesadaran”. Artinya, kondisi-kondisi kehidupan materiil menentukan kesadaran normatif atau kesadaran sosiologi seseorang. Cara berpikir, merasa, bertindak dan berperilaku tentang pemerintahan, partai, gaya hidup, pertemanan, atau ideologi dipengaruhi oleh kondisi materiil (infrastruktur ekonomi) yang dimiliki. Contoh fenomena sosial yang dapat menjelaskan pernyataan tersebut misalnya ketika ada seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, menuntut ilmu di satu perguruan tinggi negeri suatu ketika mendapatkan rezeki sehingga ia mampu menjadi orang yang sangat kaya raya. Hal ini menyebabkan cara berpikir, merasa, bertindak, berperilaku, cara berbusana, pertemanan, hingga cara pandang politik orang tersebut menjadi berbeda. Perubahan tersebut disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi materiil, seseorang yang semula tidak mampu, tiba-tiba mendapatkan rejeki sehingga menjadi kaya raya. Pemilikan uang merupakan salah satu cermin dari keadaan infrastruktur ekonomi dari seseorang. Jadi infrastruktur ekonomi menjadi fondasi bagi berdirinya bangunan superstruktur sosiobudaya, seperti cara berpikir, merasa, sudut pandang tentang pemerintahan, gaya hidup, pertemanan dan ideologi.
 Ada empat konsep sentral penting dalam memahami materialisme historis (Morrison, 1995). Pertama means of production (cara produksi), yaitu sesuatu yang digunakan untuk memproduksi kebutuhan materiil dan untuk mempertahankan keberadaan. Kedua relations of production (hubungan produksi), yaitu hubungan antara cara suatu masyarakat memproduksi dan peranan sosial yang terbagi kepada individu-individu dalam produksi.  Ketiga mode of production (mode produksi), yaitu elemen dasar dari suatu tahapan sejarah yang memperlihatkan bagaimana basis ekonomi membentuk hubungan sosial, seperti masa kuno, feodal atau kapitalis. Keempat force of production (kekuatan produksi), yaitu kapasitas dalam benda-benda dan orang yang digunakan bagi tujuan produksi.[16]
Materialisme adalah teori yang menyatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan melalui hukum yang mengatur materi dan gerak. Meterialisme berpendapat bahwa semua kejadian dan kondisi adalah sebab akibat lazim dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi sebelumnya. Dengan demikian, materialisme selalu memberikan penekanan bahwa materi merupakan ukuran segalanya, melalui paradigma materi ini segala sesuatu dapat diterangkan.
Materialisme dialektis memiliki asumsi dasar bahwa benda merupakan suatu kenyataan pokok, bahwa kenyataan itu benar-benar objektif, tidak semata berada dalam kesadaran manusia. Konsekuensi logisnya adalah pengetahuan realitas secara otomatis menjadi tidak bisa dipisahkan dengan kesadaran manusia. Bahkan materialisme mengakui bahwa kenyataan berada di luar persepsi kita tentangnya, sehingga kenyataan obyektif adalah penentu terakhir terhadap ide.[17]

11.    Asumsi tentang Individu dan Masyarakat
Teori historical materialism Karl Marxmemaparkan hasil pengamatannya mengenai kehidupan masyarakat yang olehnya dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar) yang muncul setelah revolusi industri. Kesenjangan diantara kedua kelas masyarakat tersebut menjadi titik utama perhatian Marx. Menurutnya setiap individu, baik itu dari kelas atas dan kelas bawah sama-sama mengalami alienasi atau keterasingan akibat berkembangnya industrialisasi. Dampak dari perkembangan industrialisasi itu adalah munculnya tatanan baru dalam struktur masyarakat. Marx mengaitkan alienasi itu dengan bangunan infrastruktur atau pondasi sosialnya, yaitu ekonomi. Menurut Marx, faktor ekonomi sebagai infrastruktur (susunan bawah) masyarakat merupakan faktor dominan dalam perkembangan sejarah[18]. Dalam pandangannya ini, ekonomi memiliki unsur yang esensial sebagai pendorong motivasi kehidupan masyarakat.
Karl Marx mengasumsikan setiap individu yang terbentuk pasca adanya revolusi industri pasti mengalami alienasi dari diri dan lingkungannya. Alienasi itu sendiri adalah suatu keadaan kejiwaan dimana seseorang tidak lagi merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai pusat dunianya sendiri, melainkan telah terenggut oleh suatu mekanisme di luar dirinya yang tidak mampu dikendalikan. Kelas borjuis sebagai majikan atau pemilik modal akan teralienasi karena posisinya yang harus menghamba pada modal dan dihantui dengan kekhawatiran akan bangkrut karena kerasnya persaingan diantara kelas borjuis. Sementara itu, kelas proletar yang didominasi oleh kaum buruh juga mengalami alienasi karena tidak mempunyai kebebasan dalam memilih, hidupnya tertekan karena dominasi kelas borjuis.
Dapat disimpulkan, bahwa dari penjelasan di atas Marx mengasumsikan seorang individu sebagai pribadi yang tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri karena terus menerus dibayangi adanya aliensi. Individu tersebut tidak dapat dengan bebas menjalani kehidupannya, akan tetapi individu digerakkan oleh kekuatan ekonomi yang memaksanya untuk bertindak sesuatu. Dengan latar belakang itulah, Marx mendambakan terbentuknya suatu masyarakat tanpa kelas, yang sebelumnya diketahui bahwa kelas tersebutlah yang menimbulkan kesenjangan. Marx meyakini bahwa masyarakat tanpa kelas akan menjadi suatu solusi dari permasalahan yang sering terjadi akibat adanya kesenjangan ekonomi. Dalam teori ini, Marx mengharapkan terbentuknya masyarakat yang setiap anggotanya bisa bebas memilih jalan hidupnya sendiri serta merasakan kebebasan tanpa ada tekanan faktor ekonomi. Dengan demikiaan masyarakat dapat hidup berdampingan dengan damai. Marx menawarkan komunisme sebagai solusi atau suatu jalan yang mengantarkan menuju muara akhir dari perjalanan sejarah manusia.

12.    Metodelogi yang Digunakan
Paradigma metodelogi yang digunakan Marx adalah positivistik karena menekankan fakta sosial (naturalisme/materialisme lebih dominan dari rasionalisme). Positivistik/positivisme menekankan pada fenomena sosial sehari-hari yang berupa realita sesungguhnya tanpa perlu ditafsirkan ulang. Positivistik ini berpihak pada Durkheim. Fakta sosial yang digambarkan oleh Marx adalah fakta yang nampak oleh pancaindra, sehingga dapat disimpulkan metode yang digunakan lebih bersifat kuantitatif.[19]

13.    Unit Analisis yang Digunakan
Unit analisis yang digunakan Marx adalah masyarakat. Marx menggunakan konsep materialisme historis untuk menjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman Marx. Karena materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history). Marx memandang perkembangan dialektis terjadi terlebih dahulu dalam basis (atau struktur bawah) dari masyarakat. Hal itulah yang kemudian menggerakkan struktur atasnya. Basis dari masyarakat bersifat ekonomis dan terdiri dari dua aspek. Pertama, teknik dan alat-alat produksi. Kedua, hubungan ekonomi yang mencakup sistem hak milik serta pertukaran dan distribusi barang.
Di atas basis ekonomi, berkembang struktur atas yang terdiri dari kebudayaan, ilmu pengetauan, konsep-konsep hukum, kesenian, agama, serta ideologi. Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan oleh pergeseran dalam basis ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara kepentingan-kepentingan dengan tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan masyarakat adalah pertentangan antarkelas sosial.
Marx meyakini masyarakat kapitalis adalah biang kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini disebabkan orang miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara orang kaya dan kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman. Masyarakat kapitalis juga menimbulkan pertentangan kelas, yakni kaum pekerja atau proletar dengan pemilik modal atau kaum kapitalis.Dalam buku Das Kapital, Marx menjelaskan secara rinci betapa rumitnya hubungan borjuis dan proletar. Bahkan kerumitan hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian keuntungan. Teori ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras apapun buruh bekerja, hal itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera. Sebaliknya pemilik modal yang hanya mengeluarkan sedikit keringat bisa terus menikmati hasil kerja buruh. Ketidakadilan tersebut menurut Marx harus diubah. Masyarakat kapitalis yang disekat oleh kelas harus diruntuhkan. Sebagai gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa kelas.[20]

14.    Bias Keberpihakan
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, paradigma metodelogi yang digunakan Marx adalah positivistik karena menekankan fakta sosial. Fenomena yang dikaji Marx merupakan realita tampak mata, seperti seperti cara manusia, negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain sehingga tidak perlu adanya penafsiran ulang, sehingga dapat disimpulkan bahwa bias keberpihakan Marx adalah Durkheim.

15.    Mazab yang Dianut
Teori materialisme histori Karl Marx merupakan bagian dari Mazhab Galilean karena dalam kajian materialisme historis, Marx menggunakan variabel ekonomi yang dapat dilakukan secara saintifik. Selain itu, hubungan antar variabel ilmu pengetahuan dapat berlangsung dalam ranah indrawi/dapat diamati. Marx banyak terpengaruh oleh metode dialektika Hegel yang menganggap bahwa lam semesta itu mengalami perubahan terus menerus secara dialektik.
Kebenaran yang diungkapkan Karl Marx adalah kebenaran yang tampak/dapat dilihat oleh pancaindra. Karya Marx lebih fokus menyoroti hal-hal yang muncul di permukaan, seperti cara manusia, negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain dan bukan membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Jadi dapat disimpulkan kajian Marx lebih menyoroti hal-hal yang dapat dilihat oleh panca indra, sehingga mazab yang digunakan adalah mazab Galilea.











DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny G. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
Arisandi, Herman. 2013. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Sosiologi dari Klasik sampai Modern; Biografi, Gagasan, dan Pengaruh terhadap Dunia. Yogyakarta: IRCiSoD.
Damsar. 2015. Pengantar Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Hart, Michael H. 1992. Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya.
Jazuli, Muhammad. 2014. Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rahman, Masykur A. 2013. Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: IRCiSoD.
Ritzer, George &Goodman, Douglas J. 2012. Teori Sosiologi; dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana.
________________________________. 2008.  Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Santoso, Listiyono. 2007. Epistimologi Kiri. Yogyakarta: Ar-Ruz Media.
Suseno, Franz M. 2001. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia.





[1] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia, 2001) hlm. xi
[2] Michael H. Hart, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, terj. Mahbub Djunaedi, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1992) hlm. 86-7
[3] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia, 2001) hlm. xi
[5] M. Jazuli , Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 91.
[6] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 28.
[7] ibid hlm. 61-62
[8] Masykur Arif Rahman, Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta: IRCiSoD, 2013), hlm.333.
[9]http://lapatuju.blogspot.co.id/
[10] Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: Kencana, 2015),hlm. 57.
[11] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 31.
[12]M. Jazuli , Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014),  Hlm.90.
[13] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi; dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern (Bantul: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 50.
[14]Ibid, Hlm.45.
[15] M. Jazuli , Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 91.
[16] Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: Kencana, 2015),hlm. 57.
[17] Listiyono Santoso, dkk., Epistemologi Kiri, (Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2007) hlm. 39-43
[18] Andi Muawiyah Ramli, Peta Pemikiran Karl Marx : Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis (Yogyakarta: PT LkiS Pelangi Aksara, 2004) hlm 23.
[19]M. Jazuli , Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 98.
[20] Herman Arisandi, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Sosiologi dari Klasik sampai Modern; Biografi, Gagasan, dan Pengaruh terhadap Dunia (Yogyakarta: IRCiSoD, 2013), hlm. 46.

0 komentar: