Sejarah akan berbeda sekarang ini tanpa Karl Marx. Demikian salah satu
kesimpulan Franz Magnis Suseno mengenai pemikiran Karl Marx.[1] Tidak
mengherankan jika Michael Hart meletakkan Karl Max di tempat yang tinggi dalam
susunan Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah. Pada masa jayanya,
jumlah manusia yang sedikitnya terpengaruh oleh Marxisme mendekati angka 1,3
milyar. Jumlah penganut ini lebih besar dari jumlah penganut ideologi mana pun sepanjang
sejarah manusia.[2]
Pengaruh pemikiran Karl Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah perjalanan
dunia ini. Marx tidak hanya merangsang perubahan cara berpikir, akan tetapi
juga mengubah cara manusia bertindak. Seperti dikatakan Marx sendiri, “Para
filosof hanya menginterpretasikan dunia dalam berbagai cara; masalahnya adalah
bagaimana mengubah dunia.” Hal inilah yang kemudian membedakan Marx dari
filosof lain, misalnya, Auguste Comte atau Martin Heidegger, bahkan David Hume
yang hanya sanggup mengubah cara manusia berfikir.[3]
1. Konteks Sosial
Marx hidup setelah dua revolusi
besar yaitu setelah revolusi Industri Inggris dan revolusi Kelas Borjuis
Perancis. Revolusi Borjuis di Perancis membuat Kelas Borjuis berkuasa atas
kekuasaan politik dan ekonomi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh para
bangsawan-bangsawan Monarki Perancis. Lalu
akibat dari revolusi Industri perkembangan Kapitalis sangat cepat sekali
sehingga menimbulkan jurang antara Kelas Kapitalis yang menguasai alat produksi
dan Rakyat pekerja yang tenaga nya hanya diperas untuk keperluan sang Kapitalis
itu tanpa memperdulikan yang lainya. Dalam keadaan sosial yang seperti itu Marx
bangkit dengan pikiran-pikiran yang penuh kritik terhadap keadaan sosial yang
semakin ruwet. Rakyat miskin dihisap dan ditindas oleh dua pihak yaitu dikota
ia ditindas oleh para Kapitalis sedangkan di desa mereka ditindas oleh para
tuan-tuan tanah .Dengan demikian Marx mengutamakan perubahan kedaan sosial
melalui revolusi untuk menyelamatkan rakyat pekerja serta rakyat kecil lainya
dari segala bentuk ekslploitasi yang merantai mereka dan bertujuan untuk
membangun surga di Dunia ini dimana seluruh manusia dapat hidup bahagia,makmur
dan adil.[4]
Konteks sosial yang melahirkan
teori sosial Marx adalah ketika Karl Marx masih belajar di Bonn dan kemudian di
Berlin. Pada saat di Berli itulah Marx terpikat oleh filsafat Hegel. Semula ia
bekerja sebagai wartawan kemudian pindah ke Paris tempat dia bertemu dengan
Friedricht Engels (1820-1895). Pertemuaannya dengan Engels itulah dia dapat
menemukan karya ilmiahnya. Ketika dia diusir dari Perancis kemudian pindah ke
Brussel. Pada waktu meletus revolusi di Jerman pada tahun 848 pindahlah dia ke
Koln. Setelah dia diusir dari Jerman kemudian pindahlah lagi ke Paris dan
akhirnya berdiam di London hingga matinya (1883). Pekerjaannya sebagai wartawan
menyebabkan dia berkecimpung dalam politik yang praktis. Hal ini menjadikan dia
dapat secara langsung berhubungan dengan kenyataan kemasyarakatan. Marx mulai
belajar ekonomi negara secara mendalam. Karya pokok Marx adalah “Das Kapital
atau Kapital”, yang bagian pertamanya ditulis pada tahun 1867. Kedua bagian
lainnya belum diselesaikan karena kesibukan-kesibukan organisasi dan gangguan
kesehatannya. Kedu bagian lainnya kemudian diterbitkan oleh Engels (1885 dan
1894).[5]
2. Pemikiran dan Teori yang
Mempengaruhi
Marx dipengaruhi oleh dan
sekaligus mengkritik Hegel dan Feuerbach. Mengikuti Feuerbach, Marx
mengkritik kesetiaan Hegel terhadap filsafat idealis. Marx berpendirian
demikian bukan hanya karena ia menganut orientasi materialis tetapi juga karena
minatnya dalam aktivitas praktis. Fakta sosial, seperti kekayaan dan negara,
oleh Hegel dibicarakan lebih sebagai gagasan ketimbang sebagai sesuatu yang
nyata sebagai kesatuan material. Bahkan ketika ia membahas proses material yang
tampak seperti tenaga kerjapun, perhatian Hegel hanya tertuju pada mental
tenaga kerja yang abstrak itu. Pandangan Hegel ini sangat berbeda dari
perhatian Marx yang tertuju pada tenaga kerja yang nyata. Hegel melihat pada
masalah yang keliru sejauh yang menjadi sasaran perhatian Marx. Marx merasa
idealisme Hegel mengarah ke orientasi politik yang konservatif. Menurut Hegel,
proses evolusi terjadi di luar kontrol individu dan di luar aktivitasa mereka.
Karena dalam diri manusia terjadi perubahan ke arah kesadaran yang makin besar
tentang kehidupan seperti yang diharapkan, manusia tak memerlukan perubahan
revolusioner, proses telah berlangsung menurut arah yang diinginkan. Masalah
apapun yang muncul terletak dalam kesadaran dan karena itu jawabannya pun
terletak dalam perubahan pikiran. Pendirian Marx sangat berbeda. Ia menyatakan
bahwa masalah kehidupan modern dapat dirujuk ke sumber materialnya yang riil
(misalnya, struktur kapitalisme). Karena itu penyelesaiiannya hanya dapat
ditemukan dengan menjungkirbalikkan struktur kapitalisme itu melalui tindakan
kolektif sejumlah orang besar. Sementara Hegel meletakkan “dunia di atas
kepalanya” (ia memusatkan perhatian pada kesadaran bukan pada kehidupan
material yang nyata), Marx benar-benar meletakkan dialektikanya dalam landasan
material.
Marx mendukung kritik Feuerbach
tehadap sejumlah pemikiran Hegel (misalnya, materialisme dan penolakannya
terhadap keabstrakan teori Hegel), tetapi ia jauh dari puas terhadap pendapat
Feuerbach sendiri. Feuerbach memusatkan perhatian pada kehidupan keagamaan,
sedangkan Marx yakin bahwa seluruh dunia sosial, dan khususnya kehidupan
ekonomilah yang harus dianalisis. Meski Marx menerima materialisma Feuerbach,
ia merasa bahwa Feuerbach terlalu jauh memusatkan perhatian pada sisi
nondialektis kehidupan materi. Feuerbach telah gagal memasukkan dialektika
selaku sumbangan pemikiran Hegel terpenting ke dalam orientasi materialisme,
terutama hubungan antara manusia dan kehidupan material. Terakhir Marx
menyatakan bahwa Feuerbach seperti kebanyakan filsuf lainnya, gagal menekankan
praksis (praxis)-aktivitas praktis, khususnya aktivitas revolusioner. Seperti
dikatakan Marx, “Filsuf hanya menginterpretasikan kehidupan dalam berbagai
cara; padahal masalah utamanya adalah bagaimanna cara mengubahnya”.
Marx memungut apa yang dianggapnya
unsur terpenting dari dua pemikir itu. Dialektika Hegel dan materialisme
Feuerbach dan meleburnya menjadi orientasi filsafatnya sendiri, yakni
materialisme dialektika yang menekankan pada hubungan dialektika dalam
kehidupan material.[6]
Dialektika berarti sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh
hubungannya. Dialektika bisa juga dirumuskan sebagai teori tentang persatuan
hal-hal yang bertentangan. Contoh yang tepat untuk menjelaskan dialektika
adalah dialog. Dalam setiap dialog, terdapat sebuah tesis, yang kemudian
melahirkan anti-tesis, dan selanjutnya muncul sintesis. Proses demikian
berulang terus menerus.[7]
3. Latar Belakang Sosial
Karl Marx terkenal bukan hanya
sebagai seorang filsuf, melainkan juga seorang ahli politik, ahli sejarah, ahli
sosiologi dan ahli ekonomi. Ia lahir di Trier, Prusia, pada 5 Mei 1818. Ia
berasal dari keluarga Yahudi. Konon, ayahnya yang bernama Herschel adalah
keturunan para rabi (pendeta Yahudi). Namun, keluarganya sangat liberal.
Ayahnya yang merupakan seorang pengacara meninggalkan agama Yahudi dan beralih
ke agama Kristen Protestan. Perpindahan agama
ayahnya yang begitu mudah diduga merupakan alasan mengapa Karl Marx tidak
pernah tertarik dengan Agama. Ayahnya mengharapkan Marx menjadi notaris
sebagaimana ayahnya. Ia sendiri dibaptis untuk masuk agama Kristen pada saat
usianya enam tahun. Karl Marx sendiri lebih
menyukai untuk menjadi Penyair daripada seorang ahli hukum.
Setelah selesai menempuh
pendidikan di tempat kelahirannya pada tahun 1835 Marx melanjutkan studinya di
Universitas Bonn dengan mengambil jurusan hukum. Akan tetapi, ia tertarik pada
filsafat dan kesusastraan. Lalu ia pindah ke Universitas Berlin untuk mempelajari
filsafat Hegel. Hukum merupakan ilmu
yang digemari pada saat itu. Setengah semester ia bertahan, dan melompat ke
Universitas Berlin, fokus pada filsafat. Masih semester dua, Marx sudah masuk
kelompok diskusi paling ditakuti di kampus itu, Klub Para Doktor, dan menjadi
anggota yang paling radikal. Kelompok ini selalu memakai Filsafat Hegel untuk
menyerang kekolotan Prussia. Tak heran, klub ini pun digelari “Kaum Hegelian
Muda”. Namun karena mereka juga menentang agama Protestan, klub ini digolongkan
menjadi Hegelian Kiri, lawan Hegelian Kanan, yang menafsirkan Hegel sebagai
teolog Protestan.
Selanjutnya, ia pindah ke
Universitas Jena. Disana, pada tahun 1841 atau
tepatnya 23 tahun ia meraih gelar doktor, Marx dipromosikan menjadi doktor dengan disertasi “The Difference
between The Natural Philosophy of Democritus and Epicurus”. Kertas kerja
dan pengantar disertasi ini secara jelas menunjukkan Marx sangat Hegelian, dan
antiagama. Hal terakhir ini juga yang membuat Marx dicap sesat, dan mulai
dijauhi rekan-rekannya. Marx tumbuh di tengah pergolakan politik yang dikuasai
oleh kekuatan kapitalis para Borjuis yang menentang kekuasaan aristokrasi
feodal dan membawa perubahan hubungan sosial. Meskipun ia memperjuangkan kelas
orang-orang tertindas sebagai referensi empiris dalam mengembangkan teori
filsafatnya.
Selanjutnya Marx bekerja sebagai
editor utama di sebuah surat kabar radikal dan liberal di Koln, Jerman. Dari
sinilah ia banyak mempelajari berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi
yang kemudian dikaitkan dengan asas-asas filsafat yang diyakininya.
Selama hampir setahun ia menjadi pimpinan redaksi sebuah harian radikal
1843, sesudah harian itu dilarang oleh pemerintah Prussia, pada usia 25 tahun, ia menikah dan
segera meninggalkan Jerman untuk mencari tempat yang lebih aman dalam
mengungkapkan buah pikirannya yang kerap tidak disukai oleh pemerintah Jerman
karena dianggap membahayakan kekuasaan pemerintah. ia menikah dengan Jenny Von Westphalen, putri seorang bangsawan, dan pindah
ke Paris. Di sana ia tidak hanya berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895)
yang akan menjadi teman akrab dan “penerjemah” teori-teorinya melainkan juga
dengan tokoh-tokoh sosialis Perancis. Dari seorang liberal radikal ia menjadi
seorang sosialis. Beberapa tulisan penting berasal waktu 1845, atas permintaan
pemerintah Prussia, ia diusir oleh pemerintah Perancis dan pindah ke Brussel di
Belgia. Dalam tahun-tahun ini ia mengembangkan teorinya yang definitif. Ia dan
Engels terlibat dalam macam-macam kegiatan kelompok-kelompok sosialis. Bersama
dengan Engels ia menulis Manifesto Komunis yang terbit bulan Januari 1848.
Sebelum kemudian pecahlah apa yang disebut revolusi’48, semula di Perancis,
kemudian juga di Prussia dan Austria. Marx kembali ke Jerman secara ilegal.
Tetapi revolusi itu akhirnya gagal. Karena diusir dari Belgia, Marx akhirnya
pindah ke London dimana ia akan menetap untuk sisa hidupnya.
Di London mulai tahap baru dalam hidup Marx. Aksi-aksi praktis dan revolusioner
ditinggalkan dan perhatian dipusatkannya pada pekerjaan teroritis, terutama
pada studi ilmu ekonomi. Tahun-tahun itu merupakan tahun-tahun paling gelap
dalam kehidupannya. Ia tidak mempunyai sumber pendapatan yang tetap dan hidup
dari kiriman uang sewaktu-waktu dari Engels. Keluarganya miskin dan sering
kelaparan. Karena sikapnya yang sombong dan otoriter, hampir semua bekas kawan
terasing daripadanya. Pada tahun 1864, Marx bergabung dalam aktivitas politik
gerakan pekerja internasional. Tetapi disintegrasi di tubuh gerakan tersebut
dan penyakit yang ia derita menandai akhir dari kariernya. Marx memiliki tujuh
anak. Empat diantaranya meninggal karena kecelakaan. Sisanya adalah tiga orang
putri. Tahun 1881, istrinya meninggal dunia. Akhirnya, baru 1867, terbit jilid pertama Das Kapital, karya utama Marx
yang memuat kritiknya terhadap kapitalisme (jilid kedua dan ketiga baru
diterbitkan oleh Engels sesudah Marx meninggal). Tahun-tahun terakhir hidupnya
amat sepi dan tahun 1883 ia meninggal dunia.[8]
4. Pertanyaan yang Ditawarkan
Ketika Marx masuk di Universitas
Berlin, ia tertarik oleh
filsafat Hegel. Dari Hegel ia kemudian mencari jawaban atas pertanyaan yang
menggerakkanya; ‘ penindasan sistem politik reaksioner? Pemikiran Karl Marx semakin
berkembang setelah berkenalan dengan filsafat Feurbach. Sekarang
Marx mengartikan ciri reaksioner negara Prusia sebagai ungkapan sebuah
keterasingan manusia dari dirinya sendiri.Yang menjadi pertanyaan Marx
sekarang adalah di mana ia harus mencari sumber keterasingan itu. Jawabannya ditemukan sesudah
bertemu dengan kaum sosialis radikal di Prancis. Di Paris, Marx menjadi yakin
bahwa keterasingan paling dasar berlangsung dalam proses pekerjaan manusia.
Sebenaranya pekerjaan adalah kegiatan dimana manusia justru menemukan
identitasnya. Tetapi sistem hak milik pribadi kapitalis menjungkirbalikkan
makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi. Melalui pekerjaan manusia tidak
menemukan melainkan mengasingkan diri. Hal itu demikian karena sistem hak milik
pribadi membagi masyarakat ke dalam para pemilik yang berkuasa dan para pekerja
yang tereksploitasi. Manusia hanya dapat dibebaskan apabila hak milik pribadi
atas alat-alat produksi dihapus melalui revolusi kaum buruh. Dengan demikian Marx
mencapai posisi klasik sosialisme. Karena itu Marx semakin memusatkan
perhatiannya pada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi. Ia mengklaim
bahwa sosialismenya adalah sosialisme ilmiah yang tidak hanya didorong oleh
cita-cita moral, melainkan berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum
perkembangan masyarakat, dengan demikian pendekatan Marx berubah dari yang
bersifat murni filosofis menjadi semakin sosiologis. Sosialisme ilmiah itu
disebut Marx sebagai ‘paham sejarah yang materialistik’. Sejarah dimengerti
sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi di satu pihak dan
struktur kelas-kelas sosial di pihak lain. Marx sampai pada pendapat yang akan
menjadi dasar ajarannya, bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik
atau ideologi, melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi
lama-kelamaan akan membuat struktur-struktur hak milik lama menjadi hambatan
kemajuan. Dalam situasi ini akan timbul revolusi sosial yang melahirkan bentuk
masyarakat yang lebih tinggi. Sekarang pertanyaannya, apakah akan pernah
lahir masyarakat di mana hak milik pribadi sama sekali terhapus? Jadi apakah
komunisme, masyarakat tanpa hak milik pribadi dan tanpa kelas-kelas sosial itu,
akan pernah terwujud? Karena faktor yang menentukan perkembangan masyarakat
adalah bidang ekonomi, pertanyaan itu harus dijawab melalui suatu analisis
dinamika ekonomi tertinggi yang sudah dihasilkan oleh sejarah, kapitalisme.
Itulah sebabnya Marx makin lama makin memusatkan studinya pada ilmu ekonomi,
khusunya ekonomi kapitalistik. Studi itu membawa Marx pada kesimpulan bahwa
ekonomi kapitalisme niscaya akan menuju kepada kehancurannya sendiri. Karena
kapitalisme seluruhnya terarah kepada keuntungan pemilik sebesar-besarnya,
kapitalisme menghasilkan penghisapan manusia pekerja dan, karena itu,
pertentangan kelas paling tajam. Karena itu produksi kapitalistik semakin tidak
terjual karena semakin tak terbeli oleh massa buruh yang sebenarnya
membutuhkannya. Kontradiksi internal sistem produksi kapitalis itulah yang
akhirnya niscaya akan melahirkan revolusi kelas buruh yang akan menghapus hak
milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa
kelas.[9]
5. Proposisi yang Ditawarkan
Marx menawarkan dua buah variabel
yaitu “materi” sebagai variabel X dan “perilaku sosial” sebagai variabel Y.
Marx menjelaskan bahwa perilaku sosial seseorang disetting oleh adanya materi. Secara
sederhana materialisme historis dipahami sebagai sejarah yang dikaitkan dengan
materi. Menurut pandangan Marx “keberadaan menentukan kesadaran”. Artinya
kondisi-kondisi kehidupan materiil menentukan kesadaran normatif atau kesadaran
sosiologi seseorang. Jadi cara berpikir, merasa, bertindak, dan berperilaku
tentang pemerintahan, partai, gaya hidup, pertemanan atau ideologi dipengaruhi
oleh kondisi materiel (infrastruktur ekonomi) yang dimiliki.[10]
Teori Marx secara garis besarnya
saja, dapat dikatakan bahwa Marx menawarkan sebuah teori tentang masyarakat
kapitalis berdasarkan citranya mengenai sifat mendasar manusia. Marx yakin
bahwa manusia pada dasarnya produktif, artinya untuk bertahan hidup manusia
perlu bekerja di dalam dan dengan alam. Dengan bekerja seperti itu mereka
menghasilkan makanan, pakaian, peralatan, perumahan, dan kebutuhan lain yang
memungkinkan mereka hidup. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang
memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki.
Dorongan ini diwujudkan bersama-sama dengan orang lain. Dengan kata lain
manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerja bersama untuk
menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.[11]
6. Jenis Realita Sosial
Jenis realitas sosial yang
ditampilkan oleh Marx adalah jenis realitas yang nampak.. Jenis realitas
sosial yang dikaji adalah dunia empirik dan fakta sosial dalam bentuk sistem
sosial (hubungan produksi, alat dan sarana produksi, serta super struktur) dan
formasi sosial. Sistem sosial mengandung dua komponen, yaitu super struktur dan
sub stuktur. Sementara itu di dalam sub struktur terdapat dua elemen, yaitu
hubungan produksi serta sarana dan alat produksi. Jadi sub stuktur menjadi
determinan sistem sosial, dan super struktural tergantung pada sub struktur.
Kunci dari sarana dan alat produksi adalah menguasai sumber alam, sedangkan
cirinya bersifat dinamis-diam akan tertinggal dan akhirnya punah. Dalam formasi
sosial setiap masa tidak selalu terdapat satu sistem nilai atau satu sistem
tetapi bisa lebih dari satu sistem. Dalam sistem ekonomi selalu terdapat lebih
dari satu model (campuran feodal, kapitalis, komunal, dan sebagainya).[12]
Jenis realitas sosial yang
ditampilkan oleh Marx adalah jenis realitas yang nampak. Dikatakan
nampak karena realitas dapat dilihat oleh panca indra. Karya Marx lebih fokus
menyoroti cara manusia, negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu
sama lain daripada membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik.
Artinya penelitian yang dilakukan Marx memandang dari realita sosial yang
muncul di masyarakat akibat adanya ekonomi kapitalisme. Ranah realita sosial
ini adalah ranah positivisme, karena dalam ranah positivisme dijelaskan bahwa
realita sosialnya bersifat nampak atau dapat dilihat oleh panca indera.
7. Lingkup Realitas Sosial
Lingkup realitas sosial dalam
teori yang dikemukakan Marx termasuk lingkup dalam skala mikro dan makro.Dikatakan termasuk lingkup mikro
karena Marx membangun analisis kritisnya terhadap kontradiksi-kontradiksi
masyarakat kapitalis berdasarkan premis-premisnya tentang sifat dasar manusia,
hubungannya dengan pekerja dan potensinya bagi aliensi di bawah kapitalisme.
Dia percaya bahwa ada kontradiksi nyata antara sifat dasar kita dan cara kita
bekerja dalam masyarakat kapitalis.[13]
Teori Marx dikatakan makro ketika
dilihat dari kecenderungan utama minat Marx yaitu pada basis historis
kesenjangan, khususnya kekhususan bentuknya ketika berada di bawah kapitalisme.
Marx lebih menekankan fakta sosial dalam bentuk sistem sosial (masyarakat). Bagi
Marx, sebuah teori tentang bagaimana masyarakat bekerja akan bersifat khusus
karena yang terutama dilihatnya adalah tentang bagaimana mengubah masyarakat.
Oleh sebab itu, teori Marx adalah analisis terhadap kesenjangan di bawah
kapitalisme dan bagaimana menghilangkannya.[14]
8. Aktor yang Otonomi
Dalam kajian Marx aktor bersifat
otonom dan tidak otonom. Karl Marx dikenal dengan determinisme ekonomi dimana
kekuatan produksi (sub struktur) menentukan super struktur.
SUPER STRUKTUR Sistem Nilai : Ideologi, agama,
seni-budaya
Pranata : Organisasi yang menguatkan
ideologi seperti negara, hukum, pendidikan
|
SUB STRUKTUR Hubungan Produksi
Sarana dan Alat Produksi
|
Nilai (good society yang
dipreskripsi) ialah ekonomi menentukan politik, walaupun kenyataannya tidak
selalu demikian. Super struktur (ide, politik, agama dan sebagainya) berperan
penting dalam penciptaan struktur dan perubahan. Konsep kelas borjuis dan
proletar tidak selalu dapat menjelaskan setiap struktur masyarakat.[15]
Seperti telah dijelaskan
sebelumnya, bahwa teori Marx menekankan pada dua variabel, yaitu materi dan
perilaku sosial. Sub struktur yang terdiri dari hubungn produksi dan
sarana/alat produksi inilah yang merupakan materi yang dimaksud oleh Marx,
sedangkan ideologi, seni budaya, agama, negara, hukum dan pendidikan inilah yang
merupakan perilaku sosial yang dimaksud oleh Marx.
Aktor dikatakan otonom, apabila
aktor tidak dipengaruhi oleh struktur-struktur yang membelenggunya. Dalam hal
ini, aktor dikatakan otonom apabila sub struktur yang berupa hubungan produksi
dan sarana/atal produksi dapat mempengaruhi sistem nilai dan pranata sosial. Kaum
borjuis merupakan kaum penguasa dalam hubungan kerja/hubungan produksi. Kaum
ini merupakan kaum pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi, sedangkan kaum
proletar merupakan kaum pekerja yang biasa diperbudak oleh kaum borjuis. Oleh
karena itu sudut pandang tentang sistem nilai dan pranata yang tercipta dari
dua kaum ini pasti berbeda. Kaum borjuis lebih menentukan aturan yang berlaku
dalam masyarakat karena mereka merupakan kaum yang menguasai segalanya,
sementara itu kaum proletar bertindak seperti aktor yang tidak otonom. Mereka
terikat oleh super struktur yang diciptakan oleh kaum borjuis.
Seorang individu dalam berprilaku bisa terjadi berdasarkan
kebebasan diri pribadi maupun berprilaku karena berada dalam struktur.
Subjektifitas individu sangat besar mempengaruhi perilaku atau tindakan sosial
seseorang. Oleh karena itu, untuk mengamati perilaku dan tindakan sosial subjek
hendaknya menghindari aktor yang tidak otonom. Sebab aktor yang tidak otonom
seringkali memperlihatkan dan mengungkapkan kebenaran perilaku yang tidak
sesungguhnya, hal demikian terjadi karena aktor tidak otonom berada dalam
struktur, sehingga perilaku dan tindakannya cenderung dibatasi oleh
struktur-struktur yang mengikatnya.
Pengamatan terhadap tindakan sosial individu lebih tepat jika dilakukan
terhadap aktor yang otonom atau aktor yang bebas dari tekanan struktur.
Sehingga, realitas sesungguhnya dari tindakan aktor dapat lebih
dipertanggungjawabkan dan lebih dipercayai kredibilitasnya.
9. Lokus Realitas
Lokus realitas dalam kajian Marx
termasuk dalam lokus realitas luas. Marx lebih membahas masyarakat pada
skala besar. Karena Marx lebih memfokuskan studinya pada realitas kelas dalam
masyarakat. Dimana terdapat dua buah kelompok masyarakat, yaitu kelas borjuis
dan kelas proletar. Marx mengkaji tentang hubungan dua kaum ini. Kaum borjuis
sebagai pemilik modal dan pemilik alat-alat produksi merupakan kaum yang
berkuasa atas wilayahnya. Sedangkan proletar merupakan kaum pekerja atau
sebagai kaki tangan bagi kaum borjuis. Dalam kajian Marx, kaum borjuis
seringkali menindas atas kaum proletar, sehingga fokus Marx adalah menginginkan
adanya masyarakat tanpa kelas, sehingga tercipta hidup yang damai.
Marx lebih memfokuskan pada cara
manusia, negara, pasar, dan kapital (modal) yang saling terkait satu sama lain.
Pembahasan tentang individu (masyarakat dalam lingkup sempit) hanya berkisar
individu dalam aktivitasnya di masyarakat, bahwa dalam memenuhi kebutuhan
individu, manusia harus bekerja dan pastinya membutuhkan orang lain.
10. Penjelasan yang Ditawarkan
Dari berbagai tema bahasan sosiologi Marx seperti
kapitalisme, stratifikasi sosial, perubahan sosial, aliensi, dan tentang agama
terdapat kecenderungan bahwa pembahasan tema tersebut berkisar pada
materialisme historis. Secara sederhana materialisme historis dipahami sebagai
sejarah yang dikaitkan dengan materi. Menurut pandangan Marx “keberadaan menentukan
kesadaran”. Artinya, kondisi-kondisi kehidupan materiil menentukan kesadaran
normatif atau kesadaran sosiologi seseorang. Cara berpikir, merasa, bertindak
dan berperilaku tentang pemerintahan, partai, gaya hidup, pertemanan, atau
ideologi dipengaruhi oleh kondisi materiil (infrastruktur ekonomi) yang
dimiliki. Contoh fenomena sosial yang dapat menjelaskan pernyataan tersebut
misalnya ketika ada seseorang yang berasal dari keluarga kurang mampu, menuntut
ilmu di satu perguruan tinggi negeri suatu ketika mendapatkan rezeki sehingga
ia mampu menjadi orang yang sangat kaya raya. Hal ini menyebabkan cara
berpikir, merasa, bertindak, berperilaku, cara berbusana, pertemanan, hingga
cara pandang politik orang tersebut menjadi berbeda. Perubahan tersebut
disebabkan karena terjadinya perubahan kondisi materiil, seseorang yang semula
tidak mampu, tiba-tiba mendapatkan rejeki sehingga menjadi kaya raya. Pemilikan
uang merupakan salah satu cermin dari keadaan infrastruktur ekonomi dari
seseorang. Jadi infrastruktur ekonomi menjadi fondasi bagi berdirinya bangunan
superstruktur sosiobudaya, seperti cara berpikir, merasa, sudut pandang tentang
pemerintahan, gaya hidup, pertemanan dan ideologi.
Ada empat konsep
sentral penting dalam memahami materialisme historis (Morrison, 1995). Pertama means
of production (cara produksi), yaitu sesuatu yang digunakan untuk
memproduksi kebutuhan materiil dan untuk mempertahankan keberadaan. Kedua relations
of production (hubungan produksi), yaitu hubungan antara cara suatu
masyarakat memproduksi dan peranan sosial yang terbagi kepada individu-individu
dalam produksi. Ketiga mode of
production (mode produksi), yaitu elemen dasar dari suatu tahapan sejarah
yang memperlihatkan bagaimana basis ekonomi membentuk hubungan sosial, seperti
masa kuno, feodal atau kapitalis. Keempat force of production (kekuatan
produksi), yaitu kapasitas dalam benda-benda dan orang yang digunakan bagi tujuan
produksi.[16]
Materialisme adalah
teori yang menyatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan melalui hukum yang
mengatur materi dan gerak. Meterialisme berpendapat bahwa semua kejadian dan
kondisi adalah sebab akibat lazim dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi
sebelumnya. Dengan demikian, materialisme selalu memberikan penekanan bahwa
materi merupakan ukuran segalanya, melalui paradigma materi ini segala sesuatu
dapat diterangkan.
Materialisme dialektis
memiliki asumsi dasar bahwa benda merupakan suatu kenyataan pokok, bahwa
kenyataan itu benar-benar objektif, tidak semata berada dalam kesadaran
manusia. Konsekuensi logisnya adalah pengetahuan realitas secara otomatis
menjadi tidak bisa dipisahkan dengan kesadaran manusia. Bahkan materialisme mengakui
bahwa kenyataan berada di luar persepsi kita tentangnya, sehingga kenyataan
obyektif adalah penentu terakhir terhadap ide.[17]
11. Asumsi tentang Individu dan
Masyarakat
Teori historical materialism Karl
Marxmemaparkan hasil pengamatannya mengenai kehidupan masyarakat yang olehnya
dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar)
yang muncul setelah revolusi industri. Kesenjangan diantara kedua kelas
masyarakat tersebut menjadi titik utama perhatian Marx. Menurutnya setiap individu,
baik itu dari kelas atas dan kelas bawah sama-sama mengalami alienasi atau
keterasingan akibat berkembangnya industrialisasi. Dampak dari perkembangan
industrialisasi itu adalah munculnya tatanan baru dalam struktur masyarakat.
Marx mengaitkan alienasi itu dengan bangunan infrastruktur atau pondasi
sosialnya, yaitu ekonomi. Menurut Marx, faktor ekonomi sebagai infrastruktur
(susunan bawah) masyarakat merupakan faktor dominan dalam perkembangan sejarah[18].
Dalam pandangannya ini, ekonomi memiliki unsur yang esensial sebagai pendorong
motivasi kehidupan masyarakat.
Karl Marx mengasumsikan setiap
individu yang terbentuk pasca adanya revolusi industri pasti mengalami alienasi
dari diri dan lingkungannya. Alienasi itu sendiri adalah suatu keadaan kejiwaan
dimana seseorang tidak lagi merasa dirinya sebagai miliknya sendiri, sebagai
pusat dunianya sendiri, melainkan telah terenggut oleh suatu mekanisme di luar
dirinya yang tidak mampu dikendalikan. Kelas borjuis sebagai majikan atau
pemilik modal akan teralienasi karena posisinya yang harus menghamba pada modal
dan dihantui dengan kekhawatiran akan bangkrut karena kerasnya persaingan
diantara kelas borjuis. Sementara itu, kelas proletar yang didominasi oleh kaum
buruh juga mengalami alienasi karena tidak mempunyai kebebasan dalam memilih,
hidupnya tertekan karena dominasi kelas borjuis.
Dapat disimpulkan, bahwa dari
penjelasan di atas Marx mengasumsikan seorang individu sebagai pribadi yang
tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri karena terus menerus dibayangi
adanya aliensi. Individu tersebut tidak dapat dengan bebas menjalani
kehidupannya, akan tetapi individu digerakkan oleh kekuatan ekonomi yang
memaksanya untuk bertindak sesuatu. Dengan latar belakang itulah, Marx
mendambakan terbentuknya suatu masyarakat tanpa kelas, yang sebelumnya
diketahui bahwa kelas tersebutlah yang menimbulkan kesenjangan. Marx meyakini
bahwa masyarakat tanpa kelas akan menjadi suatu solusi dari permasalahan yang
sering terjadi akibat adanya kesenjangan ekonomi. Dalam teori ini, Marx
mengharapkan terbentuknya masyarakat yang setiap anggotanya bisa bebas memilih
jalan hidupnya sendiri serta merasakan kebebasan tanpa ada tekanan faktor
ekonomi. Dengan demikiaan masyarakat dapat hidup berdampingan dengan damai.
Marx menawarkan komunisme sebagai solusi atau suatu jalan yang mengantarkan
menuju muara akhir dari perjalanan sejarah manusia.
12. Metodelogi yang Digunakan
Paradigma metodelogi yang
digunakan Marx adalah positivistik karena menekankan fakta sosial
(naturalisme/materialisme lebih dominan dari rasionalisme).
Positivistik/positivisme menekankan pada fenomena sosial sehari-hari yang
berupa realita sesungguhnya tanpa perlu ditafsirkan ulang. Positivistik ini
berpihak pada Durkheim. Fakta sosial yang digambarkan oleh Marx adalah fakta
yang nampak oleh pancaindra, sehingga dapat disimpulkan metode yang digunakan
lebih bersifat kuantitatif.[19]
13. Unit Analisis yang Digunakan
Unit analisis yang digunakan Marx
adalah masyarakat. Marx menggunakan konsep materialisme historis untuk
menjelaskan keadaan masyarakat dari dulu sampai tiba di zaman Marx. Karena
materi oleh Marx diartikan sebagai keadaan ekonomi terhadap sejarah (economic
interpretation of history). Marx memandang perkembangan dialektis terjadi terlebih
dahulu dalam basis (atau struktur bawah) dari masyarakat. Hal itulah yang
kemudian menggerakkan struktur atasnya. Basis dari masyarakat bersifat ekonomis
dan terdiri dari dua aspek. Pertama, teknik dan alat-alat produksi. Kedua,
hubungan ekonomi yang mencakup sistem hak milik serta pertukaran dan distribusi
barang.
Di atas basis ekonomi, berkembang
struktur atas yang terdiri dari kebudayaan, ilmu pengetauan, konsep-konsep
hukum, kesenian, agama, serta ideologi. Perubahan sosial-politik masyarakat disebabkan
oleh pergeseran dalam basis ekonomi, yakni pertentangan atau kontradiksi antara
kepentingan-kepentingan dengan tenaga produktif. Adapun lokomotif perkembangan
masyarakat adalah pertentangan antarkelas sosial.
Marx meyakini masyarakat kapitalis
adalah biang kehancuran dari sistem sosial yang ada. Hal ini disebabkan orang
miskin tetap akan bertahan dengan kemiskinannya, sementara orang kaya dan
kalangan pemilik modal dapat terus menikmati hidup nyaman. Masyarakat kapitalis
juga menimbulkan pertentangan kelas, yakni kaum pekerja atau proletar dengan
pemilik modal atau kaum kapitalis.Dalam buku Das Kapital, Marx menjelaskan
secara rinci betapa rumitnya hubungan borjuis dan proletar. Bahkan kerumitan
hubungan itu juga berimbas pada ketidakadilan dalam pembagian keuntungan. Teori
ekonomi Karl Marx tentang nilai lebih (surplus value) menjelaskan bahwa sekeras
apapun buruh bekerja, hal itu tidak akan mampu membuatnya kaya dan sejahtera.
Sebaliknya pemilik modal yang hanya mengeluarkan sedikit keringat bisa terus
menikmati hasil kerja buruh. Ketidakadilan tersebut menurut Marx harus diubah.
Masyarakat kapitalis yang disekat oleh kelas harus diruntuhkan. Sebagai
gantinya perlu dibentuk masyarakat tanpa kelas.[20]
14. Bias Keberpihakan
Seperti telah dijelaskan sebelumnya,
paradigma metodelogi yang digunakan Marx adalah positivistik karena menekankan
fakta sosial. Fenomena yang dikaji Marx merupakan realita tampak mata, seperti
seperti cara manusia, negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu
sama lain sehingga tidak perlu adanya penafsiran ulang, sehingga dapat
disimpulkan bahwa bias keberpihakan Marx adalah Durkheim.
15. Mazab yang Dianut
Teori materialisme histori Karl
Marx merupakan bagian dari Mazhab Galilean karena dalam kajian materialisme
historis, Marx menggunakan variabel ekonomi yang dapat dilakukan secara
saintifik. Selain itu, hubungan antar variabel ilmu pengetahuan dapat
berlangsung dalam ranah indrawi/dapat diamati. Marx banyak terpengaruh oleh
metode dialektika Hegel yang menganggap bahwa lam semesta itu mengalami
perubahan terus menerus secara dialektik.
Kebenaran yang diungkapkan Karl
Marx adalah kebenaran yang tampak/dapat dilihat oleh pancaindra. Karya Marx
lebih fokus menyoroti hal-hal yang muncul di permukaan, seperti cara manusia,
negara, pasar dan kapital (modal) saling terkait satu sama lain dan bukan
membahas masyarakat dan kehidupan sosial secara spesifik. Jadi dapat
disimpulkan kajian Marx lebih menyoroti hal-hal yang dapat dilihat oleh panca
indra, sehingga mazab yang digunakan adalah mazab Galilea.
DAFTAR PUSTAKA
Adian, Donny G.
2006. Percik Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.
Arisandi,
Herman. 2013. Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Sosiologi dari Klasik sampai
Modern; Biografi, Gagasan, dan Pengaruh terhadap Dunia. Yogyakarta:
IRCiSoD.
Damsar. 2015. Pengantar
Teori Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Hart, Michael
H. 1992. Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Jazuli,
Muhammad. 2014. Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rahman,
Masykur A. 2013. Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta:
IRCiSoD.
Ritzer,
George &Goodman, Douglas J. 2012. Teori Sosiologi; dari Teori Sosiologi
Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi
Wacana.
________________________________. 2008. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana.
Santoso, Listiyono. 2007. Epistimologi Kiri. Yogyakarta:
Ar-Ruz Media.
Suseno,
Franz M. 2001. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan
Revisionisme. Jakarta: Gramedia.
[1] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari
Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia,
2001) hlm. xi
[2] Michael H. Hart, Seratus Tokoh Paling
Berpengaruh Dalam Sejarah, terj. Mahbub Djunaedi, (Jakarta: Pustaka
Jaya, 1992) hlm. 86-7
[3] Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari
Sosialisme Utopis Ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia,
2001) hlm. xi
[5] M. Jazuli ,
Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2014), hlm. 91.
[6] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta:
Kencana, 2008), hlm. 28.
[7] ibid hlm. 61-62
[8] Masykur Arif Rahman, Buku Pintar Sejarah Filsafat Barat (Yogyakarta:
IRCiSoD, 2013), hlm.333.
[9]http://lapatuju.blogspot.co.id/
[10] Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: Kencana, 2015),hlm. 57.
[11] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern (Jakarta:
Kencana, 2008), hlm. 31.
[12]M. Jazuli ,
Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2014), Hlm.90.
[13] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi; dari Teori
Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern (Bantul:
Kreasi Wacana, 2012), hlm. 50.
[15] M. Jazuli , Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm. 91.
[16] Damsar, Pengantar Teori Sosiologi (Jakarta: Kencana, 2015),hlm. 57.
[17] Listiyono Santoso, dkk., Epistemologi Kiri,
(Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2007) hlm. 39-43
[18] Andi Muawiyah Ramli, Peta Pemikiran Karl Marx : Materialisme Dialektis
dan Materialisme Historis (Yogyakarta: PT LkiS Pelangi Aksara, 2004) hlm 23.
[19]M. Jazuli ,
Sosiologi Seni Edisi 2; Pengantar dan Model Studi Seni (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2014), hlm. 98.
[20] Herman Arisandi, Buku Pintar Pemikiran Tokoh-tokoh Sosiologi dari
Klasik sampai Modern; Biografi, Gagasan, dan Pengaruh terhadap Dunia (Yogyakarta:
IRCiSoD, 2013), hlm. 46.
orcid.org/0000-0002-9313-5267





0 komentar:
Post a Comment