Thursday, 22 August 2019
LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA DAN TANTANGAN PENDIDIKAN GENERASI MUDA
19:03
No comments
Beberapa tantangan sistem sosial budaya Indonesia dewasa
ini sebenarnya sudah diramalkan sejak lama oleh seorang pakar dari Inggris
David C. Korten. Menurutnya, Milenium ketiga ini, kita memasuki dekade krisis
abad ke-21 (Korten, 1988). Pertama, kemiskinan dunia ketiga.
Kemiskinan rakyat di negara-negara dunia tersebut diakibatkan oleh penurunan
kemampuan alam menyediakan pangan, namun persaingan untuk meperebutkan semakin
tinggi intensitasnya. Kedua,
kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup itu ditandai kerusakan
ekosistem dan pemanasan global akibat ulah manusia dengan teknologi yang tidak
ramah lingkungan. Ketiga, lemahnya
integrasi sosial. Disintegrasi sosial disebabkan oleh terjadinya kekerasan
komunal dan penggunaan obat bius.
Abad XXI juga ditandai, meminjam terminologi Alvin Toffler
(dalam Korten dan Sjahrir, 1988: 35), adanya peradaban Gelombang Ketiga yang
memiliki ciri-ciri: desentralisasi produksi skala yang tepat, energi yang dapat diperbarui,
deurbanisasi, kerja di rumah, serta tingkat produksi dan konsumsi yang tinggi.
Namun demikian, pada milenium ketiga ini, kita juga memasuki masa transisi,
yang ditandai: 1) perubahan terjadi dengan kecepatan jauh lebih tinggi dari
yang sebelumnya; 2) seluruh masyarakat manusia serentak ikut terlibat; 3) ipteks
yang ada memberi kesadaran lebih tajam thd. kesempatan dan pilihan alternative;
4) kegagalan dlm mengambil pilihan yang tepat akan mengurangi kemungkinan yang
terbuka bagi generasi mendatang; serta 5) menuntut kita mengambil langkah
signifikan untuk kedamaian dan
kesejahteraan semua.
Kondisi transisional seperti itu
mengasumsikan perlunya rekayasa sosial. Rekayasa sosial itu mengarah kepada perubahan ke arah perbaikan
kondisi masyarakat yang lebih positif dan produktif. Kondisi yang layaknya
diperjuangkan dan diwujudkan antara lain: 1) keamanan dan ketenteraman
tiap-tiap orang harus dapat terjamin hidupnya dalam mikrohabitatnya
masing-masing; 2) keadilan legal, administratif, dan distributif agar
pembangunan, perdamaian, dan masa depan terlanjutkan; 3) kelestarian keluarga sebagai
kepompong terpenting terhadap anak-anak; 4) pewajaran kedudukan perempuan dan
perlindungan terhadap anak-anak; 5) penciptaan lapangan kerja dengan imbalan
yang cukup; dan 6) sirkulasi informasi yang lebih merata.
Seiring upaya dilakukannya rekayasa
sosial yang positif dan produktif tersebut, kita juga dihadapkan pada beberapa
tantangan pembentukan sistem
sosial dan budaya nasional yang berat. Tantangan
pembentukan sistem sosial dan budaya nasional tersebut antara lain: 1) komersialisasi kebudayaan; 2) hidup komersialisme dan materialism; 3) ketahanan
budaya dan konflik nilai; 4) pendidikan dan penerusan nilai; 5) seks dan
kesehatan; 5) sekularisasi kehidupan agama; 6) adaptasi hukum dalam kehidupan;
7) pengembangan pariwisata dan interaksi antarbangsa; dan 8) pengembangan
selektif pengaruh budaya asing.
Dalam konteks perubahan dan
pembentukan sistem sosial dan
budaya nasional
tersebut, maka kita sebagai bangsa hendaknya kembali kepada jatidiri bangsa,
yaitu mengembangkan sistem sosial dan budaya nasional. Sistem sosial budaya
nasioanl tersebut dibentuk oleh puncak kebudayaan daerah sebagai akar budaya
nasional. Adapun indikator-indikator puncak kebudayaan daerah sebagai akar
budaya nasional tersebut antara lain: 1) mengandung nilai-nilai luhur Pancasila;
2) mencerminkan kualitas, martabat, dan peradaban bangsa; 3) merupakan
kebanggan nasional; 4) terbuka untuk pengayaan, penyempurnaan, dan peningkatan
kualitas seuai kemajuan masyarakat; 5) komunikatif, dapat dihayati oleh
pendukung kebudayaan daerah lainnya; dan 6) menuju tumbuhnya rasa persatuan dan
kesatuan bangsa sebagai ungkapan identitas keindonesiaan.
Saat ini bangsa ini juga menghadapi
ancaman sistem sosial budaya transisional. Pembentukan sistem sosial budaya di
era transisional ditandai oleh adanya perubahan budaya tradisional menuju
budaya kehidupan masyarakat modern. Dalam proses perubahan ini seringkali
terjadi perilaku sebagian masyarakat yang mengancam tatanan sosial yang sedang
diperjuangkan dan diidealkan. Sedikitnya ditemukan adanya lima ancaman terhadap
tatanan sosial (social order) Indonesia,
yaitu: 1) idola terhadap pilihan kerja kantoran; 2) kebudayaan konsumerisme, dimana
orang tidak puas memiliki barang sebagai pemuas kebutuhan melainkan demi status;
3) kesejahteraan petani ditentukan sistem ekonomi nasional dan internasional;
4) buruknya nilai jaminan sosial, dimana kebersamaan dinilai dari uang; dan 5) rasa
terancam bagi orang kecil.
Kondisi tatanan sosial yang mengancam
itu melahirkan budaya blasteran.
Budaya jiplakan yang belum jadi antara budaya lama dan budaya baru yang
menimbulkan ekses. Budaya blasteran tersebut memiliki ciri-ciri: 1) konsumerisme,
yakni orang amat tergantung dari produk dan terbelenggu untuk tidak mampu
mencipta; 2) mumpungisme, yakni mencari jalan pintas mumpung ada kesempatan,
membonceng pada orang di atas, serta orang jujur dan ulet dianggap bodoh; 3)
sloganisme, dimana omongan tentang nilai luhur, moralitas, etos kerja, dan
tanggung jawab disaksikan sebaliknya dalam kenyataan; serta 4) sikap menghina orang kecil, yakni
kesediaan memeras dan menghisap orang-orang bawah. Keempat ciri budaya
blasteran ini melahirkan manusia yang tak percaya diri, dengan kaki siap
menendang ke bawah dan lidah menjilat ke atas.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
orcid.org/0000-0002-9313-5267





0 komentar:
Post a Comment