Friday, 4 July 2014

Legasi Tak Berujung

Jakarta, 1966. Soekarno yang memerintah enam tahun dengan Demokrasi Terpimpin
yang gegap-gempita itu digantikan seorang tentara pendiam. Ia tampan, di tangannya
ada selembar surat mandat berkuasa: Supersemar.
Sejak itu, bahkan berpuluh-puluh tahun berselang, setelah jenazahnya dikebumikan
di Astana Giribangun, Karanganyar, Senin pekan lalu, jenderal pendiam itu terus mengharu
biru bangsa ini. Ya, Soeharto (1921-2008) tak berhenti di situ.
Ada nostalgia yang selalu membuat orang rindu akan stabilitas yang dibangunnya
dulu, manakala demokrasi menimbulkan riak-riak ketidakpastian: munculnya raja-raja kecil
di daerah, kebebasan berekspresi yang berisik, dan para oportunis mendominasi panggungpanggung
kekuasaan. Dan sikapnya yang tak pernah beringsut dari doktrin NKRI dan tidak
toleran terhadap aspirasi daerah itu sekonyong-konyong jadi alternatif ketika separatisme
mulai menggejala di Sumatera,Maluku, Papua, dan belahan lain di negeri ini.
Bagaimana ia bisa begitu merasuk ke dalam aliran darah bangsa ini?
Tiga puluh dua tahun berkuasa, Soeharto tentu saja mempunyai banyak kesempatan
untuk berbuat baik maupun buruk-ia melakukannya, silih berganti. Namun ada proses yang
seakan terus-menerus berlangsung di masa pemerintahan yang panjangnya hanya bisa
dikalahkan oleh pemimpin Kuba Fidel Castro itu, yaitu sentralisasi, bahkan kemudian

personalisasi, dengan sosok Soeharto sebagai nukleus sentral seluruh negeri.
Tak aneh, para pengamat budaya sering membandingkan pemerintah Orde Baru
dengan kerajaan Jawa Mataram-sistem politik dengan konsep yang menempatkan raja
sebagai pusat kekuasaan yang menghimpun segenap kekuatan kosmis. Raja adalah sosok
sakti, sangat sakti. Dalam tradisi Jawa, demikian Benedict Anderson dalam bukunya yang
klasik The Idea of Power in Javanese Culture, legitimasi tidak datang dari manusia. Dengan
kesaktiannya sang ratu bisa menaklukkan manusia lain di sekitarnya. Dan Soeharto, sadar
atau tidak, tampaknya yakin dialah titik pusat itu.
Proses sentralisasi mungkin bisa tercium sejak dini. Tepatnya tatkala ia
menyederhanakan partai-partai-kantong-kantong kekuasaan di luar pemerintahpeninggalan
demokrasi liberal yang dibikin lumpuh Demokrasi Terpimpin-nya Soekarno.
Pada Pemilu 1971, seperti ditulis Herbert Feith dalam The Decline of Constitutional
Democracy in Indonesia, partai yang jumlahnya puluhan itu menjadi hanya sepuluh partai.
Dan segenap aturan pemilu digiring ke satu tujuan: kemenangan Golkar.
Waktu itu, para demokrat pendukungnya, termasuk para mahasiswa Angkatan 66
yang menurunkan Soekarno sebelumnya, sama sekali tidak menaruh curiga. "Kami tahu dia
tentara yang tidak senang politik," kata Arief Budiman, salah seorang aktivis.
Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak harapan pada
pundaknya. Soeharto membebaskan tahanan politik dan mengizinkan surat kabar yang
dibredel Soekarno terbit kembali. Orde Baru dengan cepat "menjelma" menjadi koreksi
terhadap Orde Lama; dan Soeharto sendiri merupakan koreksi terhadap Soekarno. Ia
terbukti mengucapkan selamat tinggal kepada model pemerintah yang gemar
mengutarakan slogan-slogan, pemerintah yang sibuk berseru ganyang Malaysia dan
membiarkan ekonomi negeri ini tercampak dengan inflasi sampai 600 persen. Sebuah
program pembangunan direntangkan, inflasi dikendalikan, dan Indonesia mulai memasuki
pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Modal asing berdatangan.
Tapi pengikisan kekuasaan di luar nukleus pemerintahan Orde Baru ternyata tidak
berhenti. Sebuah kejadian pada pertengahan 1970-an lantas mengantar pengikisan
selanjutnya: sepuluh partai diringkas menjadi dua partai dan satu golongan. Peristiwa Malari
(1974) menghadang pemerintah yang berencana mewujudkan gagasan Tien Soeharto,
Taman Mini Indonesia Indah, dan mulai diroyan korupsi. Tantangan para mahasiswa kali ini
dihadapi dengan tangan besi. Wajah pemerintah yang dulu toleran dan terbuka itu pun
digantikan wajah galak dan represif. Beberapa tahun kemudian, 1978-1979, tantangan yang
frontal dari mahasiswa dijawab dengan NKK/BKK-larangan berpolitik bagi para mahasiswa di
kampus.
Pada 1980-an, sentralisasi kekuasaan yang berjalan selama satu periode itu pun
mencapai tahap yang cukup mencengangkan: nukleus itu melebar. Putra-putri Presiden
Soeharto yang sudah mulai besar itu menjadi bagian dari inti sel dan terjun ke dunia bisnis
berbekal "hak-hak istimewa" sebagai anak presiden. Sebuah edisi majalah Forbes
memberitakan, setelah krisis moneter 1997, kekayaan Soeharto dan keluarganya mencapai
US$ 16 miliar.
Dalam memoarnya yang tebal, From Third World to First, mantan Perdana Menteri
Singapura Lee Kuan Yew menyebut, "Saya tidak mengerti mengapa anak-anaknya perlu
menjadi begitu kaya." Dalam buku yang sama, Lee menyayangkan Soeharto telah
mengabaikan nasihat mantan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Benny Moerdani pada
akhir 1980-an agar ia mengekang gairah anak-anaknya untuk mendapatkan aneka privilese
bisnis.
Menurut Kuntowijoyo, seperti dikutip Eriyanto dalam buku Kekuasaan Otoriter,
Soeharto adalah tipe manusia yang mendasarkan diri pada an act of faith-perbuatan
berdasarkan keyakinan-dan bukan tipe jenis an act of reason, perbuatan berdasarkan akal.
Karena itu, banyak ucapan dan tindakan Soeharto yang mengejutkan, tapi ia tidak pernah
ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu. Ia tidak perlu pertimbangan rasional ketika
membubarkan PKI, tapi karena keyakinannya sendiri. Dalam biografi yang disusun O.G.
Roeder, ditunjukkan betapa yakin Soeharto ketika mengisi kekosongan pimpinan Angkatan
Darat. "Saya bertindak atas keyakinan saya sendiri."
Dan agaknya dengan keyakinan yang sama pulalah ia memutuskan untuk
melancarkan operasi "petrus" alias penembakan misterius untuk membasmi preman. Sikap
keras yang sama boleh jadi mendasari keputusan untuk melakukan tindakan drastis yang
melahirkan banyak korban di Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Papua, dan sejumlah tempat
lain. Catatan hitam pelanggaran hak asasi manusia ini sungguh tak mudah dihapuskan
begitu saja.
Puncak sentralisasi yang sangat nepotistis itu akhirnya tampil dalam bentuk yang
begitu transparan pada 1997: ia terpilih untuk ketujuh kalinya, dan itu berarti hampir
separuh dari usianya dihabiskan sebagai presiden negeri ini. Dalam Kabinet Pembangunan
VII, Siti Hardijanti Rukmana, putri sulungnya, diangkat menjadi Menteri Sosial. Dan
manakala jangkauan wewenang yang diberikan kepada seorang Menteri Sosial kemudian
terlihat begitu luas, orang pun mulai membayangkan sebuah suksesi yang tidak berbeda
dengan peristiwa keluarga: sang putri sulung mengambil alih peran ayahnya.
Gaya Soeharto memang sentralistis, nepotistis, dan kerap kali represif. Tapi dari cara
itu lahir pula program kesejahteraan yang berhasil-dan ujung-ujungnya menampilkan
citranya yang populis. Indonesia in the Soeharto Years: Issues, Incidents and Images, buku
yang berisi kumpulan tulisan yang membahas periode itu, menyebut keberhasilan Keluarga
Berencana, program yang bermula pada 1970 dan bertumpu pada pertimbangan nilai-nilai
ekonomi semata. Soeharto percaya setiap anak membutuhkan sandang, pangan,
pendidikan; dan segenap kebutuhan itu tak mungkin terpenuhi jika negeri ini mengalami
ledakan pertumbuhan penduduk.
Pelaksanaan program Keluarga Berencana bersifat top-down dan sama sekali tidak
berasal dari aspirasi masyarakat. Dengan Tien Soeharto pada puncak organisasi, dan
didukung istri pemimpin tertinggi di daerah-daerah, mesin birokrasi menggerakkan program
Keluarga Berencana sampai ke desa-desa terpencil. Di dalamnya ada represi yang berbuah
sejumlah kisah pedih, walau dunia melihatnya sebagai prestasi.
Kelewat lama berkuasa, Soeharto dan lingkaran kecil sahabat serta keluarga dekat
tumbuh menjadi satu-satunya kalangan yang bertanggung jawab atas aneka gejala sosial
ekonomi di negeri ini: represi, keberhasilan model kesejahteraan, korupsi yang demikian
mengerikan, juga kehancuran ekonomi akibat krisis moneter 1997-1998.
Ahad dua pekan lalu, hidupnya yang panjang berakhir sudah, tapi lakon dan
legasinya-baik yang lama maupun yang belum lagi terungkap-terus menghantui negeri ini.

0 komentar: